POST DETAIL

Jumat, 15 Juni 2012 - 13:22

Dewi Aryani: Rencana Pembangunan Kilang Baru Harus 'Well Planned'

Jakarta, Seruu.com - Menanggapi rencana pemerintah yang disampaikan oleh Dirjen Migas Evita Legowo, sebenarnya memang harus dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu.  Namun dari berbagai hal yang dikatakan pemerintah sebagai hambatan,justru banyak hal penting sebagai fondasi perencanaan jangka panjang yang terabaikan.

"Beberapa pertanyaan mendasarnya harus segera ditetapkan dulu oleh pemerintah yaitu, siapa yang nantinya menjadi operator atau pemiliknya? Seharusnya bisa meminta Pertamina saja sehingga nantinya menjadi bagian dari aset Pertamina,"  ujar Anggota Komisi VII DPR RI, Dewi Aryani kepada Seruu.com di Jakarta, Jumat (15/06/2012).

Selain itu, darimana crude oilnya, karena menurut Dewi, sementara negara yang punya spare capacity saat ini adalah Iran dan Venezuela. Biaya feasibility study yang mahal dan mencapai Rp1 Triliun harusnya menghasilkan kajian yang paten, tidak main-main dan benar - benar doable.

Oleh karenanya sebelum itu dilakukan hal-hal mendasar perlu ditetapkan dulu. Di dunia hanya ada 3 besar perusahaan yang mampu melakukan feasibility study menyeluruh, yaitu Chevron, Lurgi, BP atau Shell Refining Technology. "Seperti beli hak paten ke perusahaan raksasa ini," jelasnya.

Masih menurut Politisi PDI Perjuangan ini, indikasi awal jika serius  membangun kilang dengan skala besar tentunya harus diawali dengan kunjungan kepala negara ke negara-negara produsen seperti Arab saudi, Iran, Kuwait dan Irak.

Lalu, lanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah kapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ada rencana mau datang ke empat negara ini dalam waktu dekat. "Kita lihat saja Singapore, negara kecil ini lebih punya strategi karenanya kilangnya mendapat guarentee supply terutama dari Riau, dari BP dan Shell yang ladang minyaknya dimana-mana," tuturnya.

"Kapisitas kilang mereka yang sekian bpd itu sudah jelas mulai dari transport pakai VLCC (kompartemen) dan lain-lain sehingga kilangnya fully utilized sepanjang tahun," sambung  Dewi, yang baru saja lulus Doktor tercepat jurusan Adiministrasi Kebijakan Publik dan Bisnis Universitas Indonesia dengan fokus disertasi Skenario Kebijakan Energi Indonesia Hingga 2035.

Dewi menilai, Indonesia harus belajar dari pengalaman pada jaman "Orde Baru" yang pernah mengeluarkan 37 izin bangun kilang, termasuk 3 program untuk pertamina EXXON, namun hanya 1 yang jadi yaitu kilang BALONGAN, sisanya nyungsep.

"Bahkan yang milik Humpuss pun kapasitas 10 000 barel/day sekarang mangkrak saja di cepu, belum jelas statusnya padahal crude sudah ada komitmen dari ladang Cepu," tandas Dewi. [Cesare]



MOST POPULAR