POST DETAIL

Jumat, 8 Juni 2012 - 21:18

Subsidi PLN Jebol 27 Triliun, Komisi VII Pertanyakan Progress Project 10.000 MW

Jakarta, Seruu.com - Inefisiensi PLN yang mencapai angka Rp 93 triliun terjadi akibat belum beralihnya PLN ke energi baru maupun terbarukan sehingga masih menggunakan BBM. Meskipun telah banyak beberapa program peralihan ke energi alternatif seperti gheotermal, uap, dan air namun belum ada angka yang menunjukkan hasil penghematan PLN secara signifikan meski telah memiliki road map penghematan.

Politisi Partai Golkar Satya W Yudha, yang juga anggota Komisi VII DPR RI menyatakan inefisiensi subsidi hingga 93 triliun untuk listrik ini semata karean source masih menggunakan BBM, sementara program 10.000 MW tahap I PLN belum bisa berjalan karena terlambat dan tanpa hasil.

"Pembengkakan subsidi sampai 27 triliun, project-nya 10.000 MW Tahap I belum jadi hingga kini karena terlambat sehingga memakai BBM lagi. Ini perlu dipertanyakan langsung pada PLN", kata Satya kepada Seruu.com, Jumat (8/6/2012).

Satya juga mengingatkan dengan tegas dampak jebolnya APBNP 2012 akibat inefisiensi PLN, yang hingga sekarang belum mendapatkan solusi yang tepat dari road map yang sudah direncanakan.

"Tolong tanyakan pemerintah, 10.000 MW Tahap I kenapa tidak ada progress? Ada apa?
Pemerintah harus tahu karena keterlambatan ini negara jebol 27 triliun akibat keterlambatan ini", ungkapnya.

Sementara pengamat kebijakan dan energi yang juga Direktur Indosolutindo Agus Muldya mengatakan jumlah 93 triliun sangat besar dan bisa jadi soal penghematan subsidi ini termasuk usaha mendapatkan dana dari bea keluar mineral, ketika ekspor itu untuk tahun ini dibawah jumlah ini.

"Melihat kondisi saat ini saya lebih suka mengatakan bahwa nilai nilai lama sudah dianggap usang tetapi nilai baru belum disepakati, bahasa sederhananya saat ini seperti bingung dan arahnya ketarik kesana kemari tidak jelas. Saat ini banyak peluang dan kesempatan tetapi sekaligus  munculnya berbagai masalah yang membuat orang jadi tidak sabar dan marah", tutur Agus.

Yang terpenting menurut hematnya dari sisi persaingan sebaiknya dilihat sesuatu yang wajar, dan yang penting demi kebaikan merah putih sedangkan tidak untuk diluar konteks itu. [Ain]



MOST POPULAR