POST DETAIL

Kamis, 7 Juni 2012 - 14:47

Sulitnya Infrastruktur dan Harga Converter Kit 15-20 Juta, Pemerintah Harus Siapkan Dukungan Kuat Untuk Realisasi Konversi Gas

Jakarta, Seruu.com - Kebijakan pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM) Subsidi yang dicanangkan pemerintah dan mulai di uji coba sejak 1 Juni kemarin tetap menjadi perhatian pengamat kebijakan dan ekonom. Berbagai tanggapan mereka sampaikan mengingat kebijakan ini banyak mengalami penundaan dan perubahan. Salah satu program tersebut adalah diversifikasi dari BBM ke gas.

Selama ini infrastruktur seringkali dijadikan alasan utama belum bisa berjalannya program ini. Hal ini tidak dipungkiri oleh Direktur Pemasaran dan Niaga PT. Pertamina (Persero) Hanung Budya Yuktyanta saat diwawancarai Seruu.com belum lama ini.

Hanung berkata, untuk program konversi BBG sedang disiapkan pembangunan infrastrukturnya, dengan anggaran yang sudah diturunkan dari APBN. Pihaknya mengaku sedang  siapkan pembangunannya, namun ini bukan urusan mudah.

"Perijinan untuk pendirian SPBG itu 17 digit, masalah ijin dari lingkungan lalu. Nggak semudah yang kita bayangkan tapi kita akan coba lakukan yang terbaik drngan terobosan-terobosan untuk mempercepat bagaimana SPBG segera terealisir," ungkap Hanung kepada Seruu.com, Selasa (5/6/12) lalu.

Berbeda dengan yang disampaikan pengamat sosial dan energi Agus Muldya, ia berpendapat semakin cepatnya konversi maka akan mendatangkan banyak insentif bagi penghematan energy hingga kelestarian lungkungan. Faktor pendorong utama dalam konversi ini adalah selisih harga, sehingga ekonomis atau kesadaran lingkungan serta kesiapannya dan diluar dua hal tersebut akan sulit peluangnya.

Hal ini disampaikan Agus, saat dihubungi Seruu.com,  Kamis (7/6/12) hari ini.

"Kami pernah mengoperasikan taksi 100% di tahun 90an dengan menggunakan CNG, pertimbangan penentu kebijakannya yang waktu itu pak Sarwono Kusuma Atmadja, artinya kesadaran lestari lingkungan yang akan dicapai disisi anggota koperasinya. Dan ternyata menggunakan gas menurunkan biaya operasional, membuat pengemudi lebih berhati hati termasuk tidak merokok di dalam mobil sehingga mobil lebih jarang kecelakaan dan akhirnya lebih cepat lunas kreditnya apalagi ditambah selisih harga gas dan bensin yang lumayan,"jelasnya.

Yang menjadi tantangan dalam konversi ini, lanjut Agus adalah harga Converter Kit. Dibandingkan dulu yang harga per unit hanya Rp 4 juta-an, dan sekarang antara 15-20 juta. Ini dinilai akan menjadi pertimbangan besar bagi konsumen.

"Ketika itu SPBG penyaluran gasnya  secara bertahap, bertambah dan siapnya bengkel serta cuku cadang sehingga ketika ada yang perlu diperbaiki bisa langsung tepat guna hasil proses nya sehingga visi 100% dari 1500 taksi seluruhnya menggunakan BBG," ujar Agus memberi contoh.

Agus berpendapat, dalam Konteks masyarakat yang harus membeli Converter kit 10 s/d 15 jutaan, pemerintah harus ada daya dukung yang kuat supaya bisa menuai keberhasilan seperti yang pernah dulu.

"Di sisi lainnya berdasarkan pengalaman CNG bertekanan tinggi,  sehingga jika tidak hati hati punya bahaya bisa meledak berbeda dengan LGV," tutupnya. [Ain]



MOST POPULAR