POST DETAIL

Kamis, 31 Mei 2012 - 22:31

Banyak Penyimpangan di Tahun 2012, Komisi VII Ingatkan Pemerintah Lebih Cermat Hitung Asumsi ICP Untuk 2013

Jakarta, Seruu.com - Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo mengusulkan harga Minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) dalam RAPBN 2013 berkisar antara U$ 100-120/barel. Hal tersebut disampaikan berdasarkan asumsi perkiraan harga minyak dunia pada tahun 2013 mendatang.

"Berdasarkan sumber Reuters, US-DOE & OPEC, Prediksi harga minyak dunia pada 2013 mendatang berkisar antara U$ 80-140/barel," ucap Evita saat melakukan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII di Jakarta, Kamis (31/5/2012).

Dalam rapat tersebut Evita memberikan rincian untuk harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menurut US-DOE mencapai U$ 80-140/barel dolar  dan Reuters antara U$ 83-128/barel. Sedangkan untuk harga minyak jenis Brent menurut sumber Reuters berkisar antara U$ 85-132,5/barel, dan  berdasarkan  Center for Global Energy Studies (CGES) kisarannya antara U$ 100-128/barel.

Evita menambahkan, jika dilihat dari perkembangan ICP dan harga minyak dunia dia melihat masih kencangnya ketidakpastian berbagai faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga minyak, pertumbuhan ekonomi dan kondisi geopolitik di kawasan penghasil minyak, maka tidak berlebihan jika ICP diusulkan yang diusulkan untuk RAPBN 2013 sebesar U$ 100-120/barel.

Pernyataan berbeda disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Satya W Yudha yang tetap memperingatkan pada pemerintah untuk lebih berhati hati dan cermat mengitung asumsi ICP tersebut. Karena menurutnya penyimpangan yang terjadi pada ICP di tahun 2012 lumayan tinggi yaitu asumsi APBNP U$ 105/barel, padahal realisasinya hingga 28
Mei 2012 telah mencapai U$ 119/barel atau memiliki selisih U$ 14/barel.

"Pada 2013 nanti mekanisme untuk syarat menaikkan harga BBM bersubsidi mungkin akan tetap dipertahankan, agar ketepatan
asumsi ICP menjadi penting. Ini dilakukan agar asumsi ICP untuk 2013 mendatang tidak meleset lagi", ujar Politisi Golkar ini. [Ain]



MOST POPULAR