POST DETAIL

Jumat, 18 Mei 2012 - 20:45

Minyak Kita Masih Banyak, Bohong Kalau Indonesia Krisis Energi

Jakarta, Seruu.com - Asumsi pemerintah yang menyatakan Indonesia krisis energi terkait dengan menipisnya cadangan minyak yang terkandung di perut bumi Indonesia, ternyata tidak lebih dari mitos yang sengaja didengungkan.

Pelaku usaha dalam bisnis perminyakan, Bob Sulaeman Efendi mengungkap fakta seputar ketidak jujuran pemerintah dalam hal mengelola mutiara hitam ini. Menurut Bob, pemerintah hanya mengandalkan primer lifting dari sumur yang telah dieksploitasi sebesar 20 persen.

Diketahui, primer lifting adalah minyak yang menyemprot ke atas permukaan, setelah sumur berhasil diekspolitasi.

Sementara, lanjut Bob 80 persen dari sisa kandungan minyak dari satu sumur yang telah dieksploitasi oleh pemerintah, tidak pernah dimanfaatkan secara maksimal.

"Sisanya (80 persen) yang ada dibawah harus pakai teknologi lagi," kata Bob kepada Seruu.com usai acara diskusi bertajuk 'Minyak Untuk Rakyat' di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (18/05/2012).

Eksploitasi minyak yang masih ada di dasar sumur itulah yang kemudian dikenal dengan laju pengurasan minyak. Dijelaskannya, pemerintah tidak pernah membahas hal itu secara terperinci.

"Berapa banyak total yang ada dibawah itu bisa kita kuras," paparnya.

Dai informasi yang didapatnya, pemerintah hanya menguras kurang dari 20 persen dari minyak yang ada di sumur-sumur itu. Padahal, negara luar menerapkan standar rata-rata laju pengurasan minyak sebesar 35 persen.

"Jadi sesungguhnya pemerintah tidak bicara production rate, tapi harusnya bicara laju pengurasan minyak," ungkap Bob.

Apabila pemerintah menerapkan standar rata-rata laju pengurasan minyak sebesar 35 persen, maka paling minimal kebutuhan minyak Indonesia akan tercukupi dalam jangka waktu 50 tahun ke depan.

"35 persen saja (laju pengurasan), maka minyak kita cukup untuk 50 tahun," tegasnya.

Malaysia selaku negara yang minim akan kekayaan alamnya, bisa menghasilkan produksi minyak 1,6 juta barel per hari. Tentunya, hal ini berbeda jauh dengan Indonesia. Padahal, menurut Bob, Malaysia hanya memiliki ladang minyak sebesar 20 persen.

"Petronas itu belajar tentang minyak dari Pertamina," tandasnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, anggota Komisi VII DPR RI, Halim Kalla menjelaskan bahwa Malaysia bisa menghasilkan minyak mentah sampai 1,6 juta barel per hari, lantaran negeri tetangga tersebut memiliki kilang-kilang minyak diluar negaranya. [nurholis]



MOST POPULAR