POST DETAIL

Selasa, 15 Mei 2012 - 22:05

Asosiasi Batubara Pilih Pembatasan Produksi Dibanding Pembatasan Ekspor

Seruu.com - Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia lebih memilih pembatasan produksi ketimbang kebijakan ekspor terkait pemenuhan kebutuhan di dalam negeri.. Direktur Eksekutif APBI Supriyatna Suhala di Jakarta Selasa  (15/5/2012) mengatakan, pemerintah bisa menetapkan volume produksi batu bara pada angka tertentu. "Misalkan, 400 juta ton per tahun. Kalau itu dilakukan cadangan kita masih cukup panjang," katanya.

Sementara kalau pembatasan batu bara melalui kebijakan ekspor, misalkan melalui bea keluar, maka tidak bisa diterapkan sama rata pada semua perusahaan. "Sebab, besaran pajaknya berbeda-beda," katanya.

Pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) generasi pertama terkena royalti 30 persen dan pajak badan 45 persen.

Sedangkan, pemegang kuasa pertambangan (KP) yang dikeluarkan pemda, hanya terkena royalti 5-7 persen dan pajak badan 25 persen.  "Kalau dikenakan bea keluar, PKP2B generasi pertama akan tercekik dan dikhawatirkan mengadu ke arbitrase," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, kalau mau dikenakan bea keluar, maka harus disamakan terlebih dahulu beban pajaknya.  Supriyatna juga mengatakan, kalau ingin menghemat cadangan buat masa depan, maka produksi mesti dikendalikan.  "Tidak boleh tingkatkan produksi. Itu tidak akan masalah ke produsen," katanya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pada Juni 2012, pihaknya akan mengatur tata niaga batu bara. Pengaturan batu bara tersebut menyusul mineral yang sudah lebih dulu dilakukan. 

Direktur Batubara Kementerian ESDM Edy Prasodjo mengatakan, pihaknya masih membahas tata niaganya dengan kementerian terkait. "Ada beberapa bentuk yang masih dibahas. Nanti ada kategori bisa diekspor dan tidak bisa diekpor," katanya.

Menurut dia, pengaturan ekspor tersebut didasari produksi batubara yang terus meningkat. Pada tahun 2012, produksi batubara diperkirakan mencapai 330 juta ton dan bahkan kemungkinan lebih. "Lalu, tahun depan produksi bisa di atas 450 juta ton atau sudah mendekati 500 juta ton," katanya.

Pengamat energi dari ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mendukung rencana pembatasan ekspor batubara. "Bahkan, saya harapkan ada penghentian ekspor sehingga batu bara ini bisa sebesar-besarnya buat domestik," katanya.  Menurut dia, produksi batubara sebaiknya disesuaikan dengan tingkat penyerapannya di dalam negeri. [ms]



MOST POPULAR