POST DETAIL

Sabtu, 12 Mei 2012 - 16:00

Marsaid: Gas Itu Murah Kenapa Mesti Pakai Yang Mahal?

Jakarta, Seruu.com - Over kuota yang selalu menjadi perdebatan akhir-akhir ini tanpa kebijakan yang jelas sebagai pengendalinya  diduga membuat geram  rakyat, pengamat, dan legislatif. Menurut mereka, pemerintah sibuk mempermasalahkan over kuota dan penambahan kuota, namun belum melakukan formulasi yang tepat untuk mengatasinya. Padahal,  jelas kuota 40 juta KL yang sudah dipostur dalam APBNP 2012 tidak bisa diganti lagi.

Karena itu, sesuai dengan amanat UU APBN, pemerintah tidak dapat menaikkan kuota BBM secara sepihak sebelum membicarakannya secara mendalam dengan lembaga legislatif tersebut. "Kalau mau tambah kuota, harus izin DPR. Bicara dulu dengan DPR", ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa kemarin (10/5/2012).

Konversi gas yang telah sering diwacanakan pemerintah masih juga menjadi kebijakan belum terimplementasi hingga sekarang. Menurut pengusaha Gas Nasional, Marsaid, bicara tentang konversi media harus benar-benar punya pemahaman yang bagus tentang pokok permasalahannya. Karena pemerintah selalu mempermasalahkan infrastruktur bila disinggung tentang gas.

"Terkadang bila membicarakan gas orang terpaku pada infrastruktur, alokasi, harga, beberapa bilang chicken or egg. Di mata pengusaha infrastruktur harus jalan duluan, dan pemerintah harus create infrastruktur dulu tapi juga demand all together. Bagaimana sekarang efektifkan langkah-langkah yang akan diambil pemerintah, itu yang dipikirkan,"  papar Marsaid kepada Seruu.com , Sabtu (12/5/2012).

Menurut Marsaid, stock minyak kita tidak lebih dari 7 tahun itu cadangan yang terbukti. Sementara stock gas sampai 40 tahun mendatang. Gas sebagai  energi yang strategis, murah dan ramah lingkungan tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal dan belum ada kebijakannya.

"Kenyataannya target pendapatan gas selalu dikejar-kejar oleh pemerintah, rata_rata karena ada target maka dijual. Seumpama nggak dijual atau diekspor kita akan dapat bahan bakar yang murah, akan tumbuhkan industri baru, serap tenaga kerja baru, kalau dijual selesai sampai disitu saja," sambung Marsaid.

Kenyataan yang disebarkan tentang gas sekarang, lanjutnya, yang menjadi paradigma tidak adanya infrastruktur, industri belum siap, dan harga yang tidak kompetitif.

"Padahal sudah berubah total. Dengan teknologi dan informasi sekarang semua bisa diselesaikan. Contoh begitu ngomong LNG, bicara FSRU pipa, tinggalin prinsip itu. FSRU cuma bagus untuk jangka pendek, kalau jangka panjang malah timbulkan masalah baru. Contohnya hari ini FSRU jalan, industri di Bandung 10 tahun lagi dapat gas nggak?"lanjutnya.

"Hari ini sampai di Tanjung Priok kita masih mikirin bikin pipa, begitu itu nyampai di Bandung kita tahu Bandung dan sekitarnya itu bukan daerah Industri. Industrinya nyebar dimana-mana, mampu nggak kita bangun pipa 10 tahun mendatang. Kalau itu nggak terjadi mungkin industri di Bandung, Subang dan sekitarnya bergerak ke utara semuanya. Kebayang kalo bergerak ke Utara, di pantai utara, Jakarta, Semarang, Surabaya dan sekitarnya Selatan akan ketinggalan. Orang migrasi semuanya," jelas Marsaid.

Sekarang bagi Marsaid kita jangan pikirkan FSRU lagi, tapi bawa saja cairannya seperti LPG. Seperti oksigen cair yang dipakai di rumah sakit, O2 minus 192 derajat, LNG hanya minus 162 derajat, Hidrogen cair hanya minus 162 derajat, dan harusnya kita berpikir sederhana seperti itu. Dengan seperti ini menurutnya teknologi sudah terbukti dan bisa dinikmati sehari-hari.

"Kenapa mesti pakai yang mahal kalau ada gas? Mungkin karena pikiran kita sudah tersetting manja dan nggak mau susah, selalu lihat dari sudut pandang itu dulu," tutup Marsaid.[Ain]

 



MOST POPULAR