POST DETAIL

Kamis, 3 Mei 2012 - 16:27

Penggunaan BBM Sumber Inefisiensi PLN

Jakarta, Seruu.com - Inefisiensi yang telah dilakukan oleh PLN diduga telah  menghabiskan subsidi sebesar 93 triliun. Hal tersebut diakui oleh Menteri ESDM Jero Wacik telah membuat "negara sudah tidak mampu lagi membiayai subsidi PLN", ujarnya saat penandatangan MoU dengan New Zealand (17/04/12).

Pernyataan tersebut juga diamini oleh Sumaryanto Widayatin Deputi Bidang Infrastruktur dan Logistik Kementerian BUMN. "Negara ini sudah nggak mampu membiayai, jadi harus pindah ke energi lain”, kata Sumaryanto (20/04/12).

Executive Director INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Ahmad Erani Yustika saat  di tanya apa penyebab inefisiensi ini menjelaskan bahwa ada 2 jenis sumber yang menyebabkan inefisiensi di PLN yaitu biaya operasional yang begitu besar, kedua adalah penggunaan minyak sebagai bahan baku produksi minyak

"Pertama, efisiensi yang disebabkan karena biaya operasional yang sangat besar, seperti umumnya BUMN lainnya. Pemborosan ini mesti dilacak dan diurai secara sungguh agar biaya operasional bisa dikurangi, seperti perjalanan dinas, dll. Kedua, penggunaan minyak sebagai bahan baku produksi listrik. Selama problem ini tidak lekas diatasi, maka setiap kenaikan harga minyak internasional pasti membuat subsidi kepada PLN membengkak", jelasnya saat ditemui di Jakarta (03/05/12)

Begitu juga saat di konfirmasi tentang kebijakan yang dibuat Dahlan Iskan saat menjabat sebagai Dirut PLN, tentang penyewaan genset yang sampai menelan 3 triliun dan dimasukkan dalam APBNP 2012.
Erani menegaskan agar sebaiknya kita tidak fokus terhadap keputusan kasus per kasus seperti itu.

"Secara umum yang patut dicermati adalah apakah secara umum orientasi efisiensi dan pelayanan PLN mengalami kemajuan. Dahlan selama kurang lebih 2 tahun menangani PLN relatif membuahkan hasil dalam aspek efisiensi dan pelayanan, tapi belum banyak berbuat untuk mengkonversi pemakaian minyak ke gas atau batu bara sebagai bahan baku produksi listrik",tegasnya. [rere]



MOST POPULAR