POST DETAIL

Kamis, 26 April 2012 - 23:25

COREXIT 9500 Sudah Mencemari Laut NTT

Kupang, Seruu.com - Dispersant jenis Corexit 9500 yang digunakan Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA) untuk menemgelamkan tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak Montara pada 21 Agustus 2009, diduga kuat telah mencemari seluruh wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dugaan tersebut didasarkan pada penyebaran tumpahan minyak Montara bercampur timah hitam yang kemudian ditenggelamkan oleh AMSA ke dasar Laut Timor dengan menyemprotkan bubuk kimia sangat berbahaya dispersant Corexit 9500 yang terus mengalir seiring alur pergerakan arus bawah laut dan angin.
    
Demikian dikemukakan Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) yang juga pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni kepada pers di Kupang, Kamis (26/4/2012), setelah membaca laporan penelitian para ahli yang tergabung dalam "YPTB Peduli Laut Timor" serta laporan tentang dahsyatnya Tsunami di Jepang pada Maret 2011.
    
Tsunami yang menghancurkan sebagian Jepang tersebut, menurut Kantor Berita Perancis AFP, meninggalkan sebuah kisah menarik tentang kepedihan hati seorang pemuda Jepang bernama Misaki Murakami (16) yang telah kehilangan seluruh harta benda, termasuk di antaranya sebuah bola.
    
Bola milik remaja Jepang itu, menurut AFP, baru ditemukan pekan lalu di Teluk Alaska Amerika Serikat oleh seorang Amerika dan isterinya seorang Jepang dimana bola tersebut yang ditandai dengan tulisan tangan "good luck" (dalam bahasa Jepang) oleh seorang mantan teman satu sekolahnya.
    
Dengan mengacu pada kasus bola tersebut, kata Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedubes Australia itu, diyakini seluruh perairan NTT dan Timor Timur telah tercemar tumpahan minyak Montara dan dispersant Corexit 9500 yang sudah hampir tiga tahun tanpa diikuti dengan sebuah penelitian ilmiah yang patut dan transparan
    
"Ini masalah kemanusiaan yang sangat dahsyat, tetapi pemerintahan kita di Jakarta terus berdiam diri tanpa ada upaya untuk menangani masalah tersebut secara bersama-sama dengan Pemerintah Australia dan perusahaan pencemar, PTTEP Australasia yang mengelolah ladang Montara tersebut," katanya.
    
Menurut penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik Canberra-Jakarta" itu, pihaknya sedang mengupayakan untuk melayangkan gugatan ke Pengadilan Australia menuntut pemerintahan negara itu untuk bertanggungjawab atas persoalan yang dialami masyarakat pesisir di kepulauan Nusa Tenggara Timur.
    
"Hasil tangkapan nelayan kita turun drastis sejak wilayah perairan Laut Timor yang menjadi ladang kehidupannya tercemar. Demikian pun halnya dengan usaha budidaya rumput laut mengalami kegagalan akibat wilayah perairan budidaya tercemar," ujarnya.
    
Atas dasar ini, kata Tanoni, pemerintah harus membuka mata melihat persoalan yang dihadapi masyarakat petani dan nelayan di Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban dari pencemaran yang maha dasyat di abad ini. [ir]



MOST POPULAR