POST DETAIL

Kamis, 19 April 2012 - 13:49

Argentina Putuskan Nasionalisasi Asset Repsol

Seruu.com - Presiden Argentina, Cristina Fernández Kirchner, mengumumkan rencana menasionalisasi perusahaan minyak terbesar di negeri itu, YPF (Yacimientos Petrolíferos Fiscales), yang sebagian besar sahamnya dikuasai oleh korporasi minyak Repsol asal Spanyol.

Dalam draft Undang-Undang yang diajukan di kongres, Cristina Fernández mengisyaratkan Argentina akan mengambil-alih 51% saham YPF. Dari 51% yang dikuasai negara itu, sekitar 49%-nya akan didistribusikan ke tiap-tiap provinsi melalui Organisasi Federal Produsen Minyak Negara.

Meski demikian, Cristina Fernández menyebut langkahnya ini bukan nasionalisasi, melainkan pemulihan kontrol negara. Ia tetap akan mempertahankan YPF sebagai perusahaan campuran: negara mengusai 51% saham, sedangkan sisanya diserahkan kepada swasta.

Kelompok Petersen akan menguasai 25.46% saham, Repsol dengan 6.43%, dan sisanya akan dibuka kepada investor baru.

Kabarnya, pengambilan-alihan YPF oleh pemerintah Argentina akan menjadi nasionalisasi industri minyak terbesar sejak pemerintah Rusia mengambil-alih perusahaan minyak Yukos pada tahun 2005 lalu.

Terhadap langkah Argentina ini, pemerintah Spanyol berencana mengambil langkah-langkah untuk melawan Argentina. “Inilah telah merusak iklim yang ramah antara Argentina dan Spanyol,” kata Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Garcia-Margallo.

Uni Eropa juga dikabarkan berdiri di belakang Spanyol. Imperialis AS juga kemungkinan akan mendukung langkah Spanyol dan Repsol. Apalagi, tindakan politik Presiden Argentina ini bisa menjadi contoh bagi yang lain.

Meski mendapat tekanan, Cristina Fernandez mengaku tidak akan mundur. Dalam sebuah pengumuman di TV, Cristina Fernandez mengatakan, “dirinya tidak akan tunduk pada tekanan pihak asing.”  “Saya adalah kepala negara dan bukan penjahat,” kata Christina yang segera disambut dengan kegembiraan oleh serikat buruh, partai politik, dan rakyat Argentina.

Meskipun rencana ini memerlukan persetujuan 2/3 anggota kongres, tetapi Presiden punya kewenangan untuk menggunakan dekrit. Cristina Fernandez berencana menggunakan dekrit jika usulnya dimentahkan kongres.

Perusahaan minyak YPF diprivatisasi tahun 1992. Sejak itu, produksi minyak Argentina terus merosot. Situasi inilah yang menyebabkan Argentina berubah menjadi net-importir BBM dan gas pada akhir tahun lalu.

Kenaikan impor BBM dan gas Argentina berkisar 150% pertahunnya dan memaksa negara mengeluarkan anggaran 9 miliar dollar AS. Situasi itu, tentu saja, sangat tidak menguntungkan Argentina. Sebab, hal tersebut telah menggerus sebagian besar keuntungan ekspornya.

Cristina Fernandez Kichner juga mencatat sejumlah negara yang menerapkan kontrol penuh terhadap industri minyaknya. “Uni Emirat Arab mengontrol 100% industri minyak dan gasnya. Demikian pula dengan Tiongkok, Iran, Venezuela, Uruguay, Chile, Ekuador, Mexico, Malaysia, Mesir, dan masih banyak lagi. Kolombia menguasai 90% saham, Gazprom Rusia menguasai 50% saham, dan Petrobraz Brazil dengan menguasai 51% saham,” katanya. [ms]



MOST POPULAR