POST DETAIL

Sabtu, 14 April 2012 - 10:11

Kerugian Petaka Montara Laut Timor Capai Rp16,95 Triliun per Tahun

Jakarta, Seruu.com - “Berdasar hasil penelitian ilmiah yang dimiliki  Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), kerugian sosial ekonomi saja yang diderita masyarakat,nelayan,petani rumput dan pedagang ikan di  Nusa Tenggara Timur akibat pencemaran Laut Timor per tahunnya diperkirakan mencapai Rp 16,59 triliun atau sekitar 1,7 miliar dolar Amerika. Kerugian ini diakibatkan meledaknya sumur minyak dan gas Montara pada 21 Agustus 2009 lalu sehingga merusak tatanan terumbu karang,menurunya hasil produksi ikan,rumput laut  dan biota laut lainnya”.

“Jumlah kerugian masyarakat ini meliputi  Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan,Timor Tengah Utara hingga Kabupaten Alor dan Lembata”.

Hal ini ditegaskan Ketua YPTB Ferdi Tanoni  kepada wartawan di Gedung Dewan Energi Nasional (DEN) Jakarta, Jumat (13/4/2012) kemarin.

Penanganan kasus pencemaran Laut Timor oleh Pemerintah RI melalui Tim Nasional Penanggulangan  Keadaan Darurat Tumpahan Minyak Di Laut (Tim Nas PKDTML) dan Tim Advokasi Pencemaran Laut Timor hingga kini kian tak jelas.

Tim yang dipimpin mantan Menteri Perhubungan Freddy Numberi dan Deputy Meneteri Negara Lingkungan Hidup Masneyarti Hilman ini tak menuai hasil apapun,bahkan hanya mempermalukan Pemerintah dan Bangsa Indonesia yang besar ini di mata dunia internasional karena ketidakmampuan mereka menuntaskan petaka Montara di Laut Timor ini,tambah Ferdi.

Mantan agen imigrasi Keduataan Besar Australia ini yang dalam jumpa pers didampingi anggota DEN Prof.DR.Mukhtasor mengatakan, sudah tiga tahun petaka pencemaran maha dahsyat itu melanda Laut Timor, bahkan telah mengakibatkan korban jiwa, namun Pemerintah RI tak kunjung memberi perhatian.

"Jadi kami kesini dan menemui lembaga Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai sebuah lembaga independen bukan untuk meminta bantuan Pemerintah RI,akan tetapi melalui DEN agar disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa masyarakat korban petaka Laut Timor melalui YPTB sudah siap mengajukan gugatan resmi terhadap Pemerintah Australia,Indonesia dan PTTEP Australasia di pengadilan Australia dan Internasional.  

“Tuntutan kami adalah hak-hak masyarakat yang mengalami kerugian sosial ekonomi dan ancaman kesehatan terhadap jutaan orang yang mengkonsumsi ikan dan biota laut lainnya dari Laut Timor yang telah terkontaminasi zat sangat beracun dispersant," tandas Ferdi.

Menjawab pertanyaan wartawan,mengapa pihaknya menemui DEN dan bukannya kementerian yang bertanggungjawab langsung atas masalah ini.

Dengan enteng pemerhati masalah Laut Timor ini mengatakan,selama ini ia bersama masyarakat telah menemui berbagai pihak mulai dari Pemerintah Provinsi NTT,Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan,Kementerian Luar Negeri,Kementerian Kelautan dan Perikanan,Staf Khusus Presiden RI dan Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP 4),tetapi semua upaya nya itu  diabaikan saja.         

Ia mengibaratknnya seperti  “berbicara dengan orang bisu,buta dan tuli”.

Siang kemarin, penulis buku Skandal Laut Timor,Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta ini  bertemu anggota Dewan Energi Nasional,untuk menyampaikan rencana gugatan terhadap Pemerintah RI dan Pemerintah Australia terkait hak-hak ratusan ribu masyarakat yang menjadi korban pencemaran Laut Timor.

Prof.DR. Mukhtasor paada kesempatan yang sama kepada wartawan, mengatakan, Pemerintah hingga saat ini tidak melakukan penelitian ilmiah yang patut,kredibel dan transparan terkait pencemaran Laut Timor. Padahal, berdasar hasil penelitian ilmiah yang ada, dampak negatif dari pencemaran ini sungguh luar biasa dan perlu segera ditangani. Jika tidak, seluruh biota Laut Timor akan mati. Kerusakan-kerusakan luar biasa ini sudah terjadi dan akan semakin parah.

Menurut Mukhtasor, berdasar penelitian ilmiah yang ada ini, bubuk zat kimia yang disebut dispersant yang ditaburkan oleh Australia Maritime Safety Authority (AMSA) di lokasi pencemaran untuk menenggelamkan gumpalan-gumpalan minyak mempunyai pengaruh negatif terhadap kehidupan di laut. Dia menyebutkan, jenis dispersant yang disebarkan ke laut, yakni jenis tergo R40 (1.000 liter), slickgone LTSW (38.000 liter), shell VDC (5.000 liter), Corexit EC9500 (17.000 liter), slickgone NS (63.000 liter), ARDROX 6120 (32.000 liter) dan corexit EC 9527A (27.720 liter). Sehingga total yang dibuang ke laut sebanyak 184.135 liter. Mukhtasor pun menyayangkan sikap Pemerintah yang lamban menanggapi bencana ini.

Menurutnya, petaka Laut Timor ini tak ada bedanya dengan bencana Lapindo di Sidoarjo. Hanya saja, Pemerintah lebih fokus menangani bencana Sidoarjo, sedangkan Laut Timor yang juga punya dampak negatif tak dihiraukan. "Lapindo itu kan ada anggarannya setiap tahun dari APBN dan seharusnya untuk masyarakat di NTT yang terkena dampak pencemaran laut pun perlu diperhatikan," tandas Mukhtasor.

Oleh karena itu, Mukhtasor mendukung berbagai langkah yang selama ini dilakukan  YPTB  , sebab jika ditunda, maka lama-kelamaan bukti-bukti pencemaran akan hilang. "Kalau dibiarkan terus maka lama-lama bukti-bukti pencemaran di laut itu akan hilang, dan masyarakat yang akan dirugikan," kata Mukhtasor. [ir]



MOST POPULAR