POST DETAIL

Selasa, 3 April 2012 - 09:07

Menteri ESDM : Harga BBM Bisa Dinaikan Bulan Depan!

Jakarta, Seruu.com - Pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada Mei jika rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada April menyentuh US$ 134,36 per barel. "Syaratnya terpenuhi, pemerintah punya wewenang menyesuaikan harga," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Senin (02/4/2012).

Syarat yang dimaksudkan Jero mengacu pada Undang-Undang APBN Perubahan 2012. Pasal 7 ayat 6A undang-undang tersebut menyatakan memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar. Kenaikan harga disyaratkan jika ICP 15 persen di atas asumsi APBN sebesar US$ 105 per barel dalam kurun enam bulan atau sekitar US$ 120,75 per barel.

Jero menjelaskan, dalam enam bulan terakhir harga ICP bergerak fluktuatif. Pada Oktober lalu ICP sudah US$ 109, November US$ 112,9 dan Desember US$ 110,7 per barel. Harga minyak Indonesia terus merangkak naik menjadi US$ 115,9 pada Januari dan US$ 122,2 pada Februari. "Maret, baru saya tanda tangani, harga ICP sudah mencapai US$ 128 per barel."

Dengan fluktuasi harga ini, kata dia, harga rata-rata minyak Indonesia selama enam bulan terakhir sebesar US$ 116,3 per barel. "Pemerintah belum sah menaikkan harga BBM pada April 2012 dengan acuan harga ini," kata Jero.

Dia memperkirakan, harga BBM akan naik pada Mei 2012 jika harga rata-rata ICP pada bulan ini sekitar US$ 134,64 per barel.

"Atau harga naik pada Juni mendatang bila harga ICP selama April dan Mei masing-masing sebesar US$ 123,8." Ihwal waktu kenaikan harga BBM yang tepat, Jero tak bisa memastikannya. "Tergantung kondisi politik dan iklim di dunia yang mempengaruhi permintaan akan minyak," ujarnya.

Namun Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan, waktu yang tepat menaikkan harga BBM adalah pada bulan ini. Menurut dia, perbedaan harga jual bahan bakar subsidi dan nonsubsidi akan mendorong peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.

"Anggaran negara bisa tak bertahan, karena volume konsumsi BBM bersubsidi bisa melebihi kuota yang disepakati sebesar 40 juta kiloliter," ujarnya.  Apalagi, kata dia, disparitas harga itu semakin tinggi setelah harga harga Pertamax naik menjadi Rp 10.200 per liter. "Yang pakai BBM tak bersubsidi akan pindah (ke BBM bersubsidi)." ujarnya. [ms]



MOST POPULAR