POST DETAIL

Selasa, 27 Maret 2012 - 15:04

Ekonom AS : Sebaiknya Pemerintah Tidak Naikan Harga BBM Sekarang!

Seruu.com - Pengamat ekonomi dari John Hopkins University Amerika Serikat (AS), Steve Hanke, menyarankan pemerintah menunda rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi karena bisa menimbulkan syok di masyarakat dan pasar.

Menurut profesor jurusan Applied Economics ini, penundaan sambil menunggu harga minyak dunia turun. "Waktunya tidak tepat," ujarnya dalam diskusi Globe Asia di Jakarta, hari ini.
 
Dia mengatakan, pemerintah seharusnya mencabut subsidi minyak pada akhir 2009 ketika harga minyak masih US$ 35 per barel. Sementara harga minyak per barel hari ini sekitar US$ 106,89.
 
Dia memperkirakan, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan selama krisis di Timur Tengah masih berlanjut. "Harga minyak baru akan turun kalau ada pasokan baru ke pasar global. Ada pasokan dari Kanada tapi belum bisa disalurkan karena tidak ada infrastrukturnya," ujar dia.
 
Meski demikian, kata Hanke, pihaknya mendukung rencana pemerintah mengurangi subsidi karena subsidi  tersebut dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. "Subsidi yang diselamatkan harus digunakan untuk reformasi birokrasi," ujarnya.
 
Di sisi lain, penghematan subsidi bisa menjaga defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di bawah 4 persen.  "Jika defisit melebihi 4 persen, memberikan preseden buruk seolah-olah defisit akan bertambah terus dan tidak terkendali," tambahnya.
 
Hanke meragukan pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi, karena dianggap gagal melakukan negosiasi dengan partai oposisi.
 
"Pemerintah tidak berhasil meraih persetujuan oposisi. Saya pesimis rencana kenaikan harga BBM bisa terlaksana dalam waktu dekat," ujarnya.
 
Hari Senin malam, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui subsidi BBM tahun ini sebesar Rp 137 triliun. Hal ini membuat pemerintah harus menaikkan harga BBM. Meski demikian, DPR belum menyetujui rencana kenaikan BBM. [ms]



MOST POPULAR