Menurut dia, penurunan emisi para prinsipnya tanggung jawab semua pihak. "Hanya saja, industri terutama yang terkait dengan Sumber Daya Alam (SDA) perlu mengambil porsi yang lebih besar dalam komitmen global itu," katanya.

Sinta berpendapat target penurunan emisi harus bisa dilakukan secara terukur agar program pemerintah untuk perbaikan lingkungan benar-benar dapat terealisasi.

Karena itu, penggunaan alat pengukur emisi Li-Cor 8100 Automated Soil C02 Flux System yang merupakan teknologi terbaru dan dapat mengunduh data CO2 secara real time dinilainya bisa menjadi acuan. Alat ini merupakan teknologi terbaru dan satu-satunya di Indonesia yang dimiliki PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Menurut anggota tim Monitoring, Reporting, dan Verification (MRV) Kementrian Kehutanan, Dr Wawan, Li-Cor 8100 Automated Soil C02 Flux System merupakan teknologi terbaru untuk mengunduh data CO2 secara real time.

"Alat ini sangat praktis karena bisa diunduh setiap saat dan tidak dibatasi tempat," kata Dosen Ilmu Tanah Universitas Riau itu.

Dia mengatakan emisi karbon di lahan gambut yang dikelola dengan ekohidro dapat dipantau secara terus-menerus dengan menggunakan Li-Cor 8100. Dari hasil pengukuran yang sudah dilakukan dengan alat ini, sistem manajemen pengelolaan air di PT RAPP di lahan gambut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tata kelola air yang dikenal dengan konsep ekohidro itu bahkan dinilainya dapat dikembangkan secara nasional sebagai model pengelolaan gambut.

Secara ilmiah, kata Wawan, konsep ekohidro itu dapat diterima logika. Dengan pengelolaan air yang baik di lahan gambut, produktivitas lahan gambut semakin tinggi, kebakaran berkurang, emisi karbon makin kecil, dan laju subsidensi atau degradasi gambut berkurang.

Sementara Presiden Komisaris PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Tony Wenas mengatakan RAPP sangat mendukung program pemerintah untuk menurunkan emisi.

Karena itu, perusahaan memanfaatkan Li-Cor 8100 untuk mengukur kadar emisi CO2 yang dikeluarkan dari pengelolaan lahan gambut untuk Hutan Tanaman Industri (HTI).

Menurut dia, instrumen tersebut diperkenalkan Prof. Toshihide Nagano dan Dr. Kazutoshi Osawa. "Mereka datang bersama Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Dr. Sam Herodian untuk memperkenalkan teknologi itu kepada RAPP, " kata Tony.

Menurut dia, RAPP kemudian mengukur emisi CO2 pada lahan gambut HTI RAPP di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, dan hasilnya menunjukkan emisi di kawasan itu berada pada batas ambang aman. "Prof. Nagano juga mengungkapkan kalau pengelolaan lahan gambut di HTI RAPP merupakan salah satu yang terbaik di dunia," kata Tony.

Sebelumnya, Nagano menyatakan, tidak ada perbedaan antara gambut di Indonesia, khususnya di HTI RAPP, dengan tempat lain yang pernah ditelitinya.

Dari hasil penelitiannya selama 30 tahun terhadap lahan gambut, Nagano mengatakan lahan jenis ini bila tidak ditanami tanaman justru akan lebih mudah terkena erosi dan bisa saja menjadi mudah tenggelam.